Penulis : Arjuna Herianto Tri Mayldo Munthe
Sekretaris Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Tanah Karo
Menjadi Mahasiswa Sejati Melalui Organisasi Mahasiswa
Mahasiswa, sebagai bagian dari intelektual muda, memiliki peran strategis dalam membangun peradaban bangsa. Namun, fenomena yang terjadi dewasa ini menunjukkan bahwa semakin sedikit mahasiswa yang memiliki keinginan untuk bergabung dan terlibat dalam organisasi kemahasiswaan.
Hal ini tentu menjadi ironi bagi dunia akademik, mengingat organisasi mahasiswa sejatinya merupakan kawah candradimuka bagi pembentukan karakter, kepemimpinan, serta pemikiran kritis yang menjadi ciri khas mahasiswa sejati. Lebih dari sekadar berkumpul dan berdiskusi, organisasi kemahasiswaan adalah ruang dialektika yang sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, serta Pengabdian kepada Masyarakat.
Organisasi Mahasiswa dan Tri Dharma Perguruan Tinggi
Tri Dharma Perguruan Tinggi bukan sekadar konsep yang hanya dihafal dan diulang dalam setiap orasi akademik. Ia adalah nilai fundamental yang menuntut mahasiswa untuk menjadi insan intelektual yang tidak hanya unggul dalam ranah akademik, tetapi juga memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat. Organisasi kemahasiswaan adalah salah satu instrumen utama dalam mewujudkan Tri Dharma ini.
Pertama, dalam aspek Pendidikan dan Pengajaran, organisasi mahasiswa menjadi ruang belajar yang melengkapi pendidikan formal di dalam kelas. Dalam organisasi, mahasiswa tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga diberikan kesempatan untuk menerapkan ilmu yang mereka peroleh melalui berbagai kegiatan dan program kerja.
Kepemimpinan, komunikasi, manajemen konflik, hingga negosiasi adalah keterampilan yang tidak bisa diperoleh hanya dengan duduk di bangku kuliah, tetapi harus diasah melalui pengalaman nyata dalam berorganisasi.
Kedua, dalam dimensi Penelitian dan Pengembangan, organisasi mahasiswa sering kali menjadi motor penggerak bagi kajian-kajian ilmiah dan diskusi kritis. Kajian-kajian strategis yang dilakukan oleh organisasi kemahasiswaan, baik di tingkat fakultas maupun universitas, berkontribusi dalam mengembangkan wawasan akademik yang lebih luas. Melalui organisasi, mahasiswa memiliki kesempatan untuk berdiskusi, meneliti, dan menciptakan solusi atas permasalahan sosial yang dihadapi bangsa.
Ketiga, dalam Pengabdian kepada Masyarakat, organisasi kemahasiswaan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memahami dan merasakan langsung realitas sosial. Kegiatan seperti bakti sosial, program pemberdayaan masyarakat, hingga advokasi kebijakan adalah bentuk nyata dari kontribusi mahasiswa terhadap bangsa. Dengan berorganisasi, mahasiswa tidak hanya menjadi bagian dari solusi, tetapi juga memahami esensi kebermanfaatan ilmu yang mereka pelajari.
Krisis Kepedulian dan Kehilangan Identitas Mahasiswa
Ketika mahasiswa enggan untuk berorganisasi, sejatinya mereka telah kehilangan sebagian dari identitas kemahasiswaan itu sendiri. Mahasiswa bukan sekadar individu yang mengejar indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi, tetapi juga insan yang memiliki kepekaan sosial dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran. Semakin minimnya keterlibatan mahasiswa dalam organisasi menunjukkan adanya krisis kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Dalam konteks yang lebih luas, hal ini dapat berimplikasi pada lemahnya daya kritis mahasiswa terhadap kebijakan publik dan isu-isu sosial. Mahasiswa yang terbiasa hanya berada dalam zona nyaman tanpa berorganisasi cenderung menjadi apatis terhadap berbagai permasalahan bangsa.
Padahal, sejarah mencatat bahwa pergerakan mahasiswa selalu menjadi katalisator perubahan sosial dan politik, baik di tingkat nasional maupun internasional. Tanpa keterlibatan dalam organisasi, mahasiswa kehilangan kesempatan untuk mengasah daya kritis mereka, yang sejatinya menjadi modal utama dalam membangun bangsa yang lebih baik.
Pentingnya Berpikir Kritis bagi Bangsa dan Negara
Berpikir kritis bukan hanya sekadar kemampuan akademik, tetapi juga tanggung jawab moral setiap insan intelektual. Dalam sejarah perjalanan bangsa, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dalam menentang ketidakadilan dan memperjuangkan demokrasi. Mahasiswa yang aktif dalam organisasi memiliki pemahaman yang lebih luas terhadap dinamika sosial, politik, dan ekonomi negara, sehingga mampu berkontribusi dalam mengawal kebijakan pemerintah.
Ketika mahasiswa tidak lagi aktif dalam organisasi, maka bangsa ini kehilangan salah satu pilar utama dalam membangun kesadaran kolektif. Mahasiswa yang hanya fokus pada akademik tanpa berorganisasi akan cenderung menjadi individu pragmatis yang hanya mengejar kepentingan pribadi, tanpa memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa.
Padahal, negara membutuhkan generasi muda yang memiliki keberanian intelektual untuk bersuara, menawarkan gagasan, serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional.
Menjadi Mahasiswa Sejati Melalui Organisasi
Menjadi mahasiswa sejati berarti menjadi agen perubahan yang memiliki daya kritis dan kepedulian sosial. Organisasi kemahasiswaan adalah ruang yang membentuk mahasiswa agar memiliki karakter yang tangguh, mandiri, dan bertanggung jawab.
Dengan terlibat dalam organisasi, mahasiswa belajar untuk bekerja dalam tim, menyusun strategi, mengelola konflik, serta berkomunikasi secara efektif. Semua keterampilan ini bukan hanya bermanfaat dalam kehidupan kampus, tetapi juga menjadi bekal penting dalam dunia profesional dan kehidupan bermasyarakat.
Lebih dari itu, organisasi kemahasiswaan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaktualisasikan diri dan mengasah kepekaan terhadap isu-isu yang terjadi di sekitar mereka. Sebab, mahasiswa yang sejati bukanlah mereka yang hanya mengejar prestasi akademik semata, melainkan mereka yang turut berkontribusi dalam menciptakan perubahan sosial.
Menurunnya minat mahasiswa untuk bergabung dalam organisasi kemahasiswaan merupakan tantangan serius yang perlu disikapi dengan bijak. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang akademik, tetapi juga sebagai arena pembentukan karakter dan pemikiran kritis mahasiswa.
Dengan memahami keterkaitan antara organisasi kemahasiswaan dan Tri Dharma Perguruan Tinggi, diharapkan mahasiswa dapat kembali menyadari pentingnya berorganisasi sebagai bagian dari proses menuju mahasiswa sejati.
Bangsa ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang memiliki IPK tinggi, tetapi juga membutuhkan pemimpin masa depan yang memiliki integritas, keberanian, serta kemampuan untuk berpikir kritis dan solutif.
Oleh karena itu, keterlibatan dalam organisasi mahasiswa bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan bagi setiap insan akademik yang ingin berkontribusi dalam pembangunan negeri. Masa depan bangsa berada di tangan mahasiswa, dan organisasi kemahasiswaan adalah salah satu kunci utama dalam membentuk generasi emas yang berkarakter, berdaya saing, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar